Bagaimana nasib tukang becak kayuh saat mobil listrik mulai menjamur? Simak kisah perjuangan dan dilema transportasi tradisional di sini. Klik!
Pemandangan jalanan kota besar kini mulai berubah drastis. Jika dahulu suara rantai sepeda becak menjadi musik latar di sudut-sudut pasar, kini kesunyian mesin mobil listrik yang elegan mulai mendominasi. Di balik kemajuan teknologi transportasi yang ramah lingkungan ini, terselip sebuah tanya besar: bagaimana nasib tukang becak kayuh di tengah gempuran mobil listrik yang kian masif?
Becak kayuh bukan sekadar alat transportasi; ia adalah simbol sejarah dan keringat kelas pekerja yang bertahan lintas zaman. Namun, ketika efisiensi dan teknologi menjadi panglima, para pengayuh becak ini terpaksa berhadapan dengan realita ekonomi yang semakin menghimpit.
Pergeseran Preferensi Penumpang Di Era Modern
Kehadiran mobil listrik yang nyaman, ber-AC, dan memiliki tarif yang pasti melalui aplikasi telah mengubah standar kenyamanan masyarakat. Hal ini menciptakan jurang pemisah yang lebar bagi transportasi tradisional.
- Kecepatan vs Ketenangan: Di dunia yang bergerak cepat, becak kayuh dianggap terlalu lambat bagi mobilitas kaum urban yang dinamis.
- Standar Kenyamanan: Penumpang kini lebih memilih kabin yang tertutup untuk menghindari polusi dan panas matahari, sesuatu yang tidak bisa ditawarkan oleh desain terbuka becak kayuh.
- Kepastian Harga: Aplikasi transportasi online memberikan transparansi harga, sementara tarif becak masih menggunakan sistem tawar-menawar yang terkadang melelahkan bagi pelanggan generasi baru.
Dilema Ekonomi Dan Biaya Perawatan
Para tukang becak kayuh kini berada di titik nadir pendapatan harian. Sering kali, mereka harus menunggu berjam-jam di bawah terik matahari hanya untuk mendapatkan satu tarikan pelanggan dengan upah yang tidak seberapa.
Ironisnya, saat dunia membicarakan investasi baterai mobil listrik yang mahal, para tukang becak kesulitan hanya untuk sekadar mengganti ban atau memperbaiki rem yang aus. Ketidakmampuan untuk melakukan modernisasi menjadi hambatan struktural yang membuat mereka semakin terpinggirkan dari sistem transportasi kota yang modern.
Becak Kayuh Sebagai Wisata Dan Nostalgia
Meski terhimpit secara fungsional oleh perkembangan transportasi modern, nasib tukang becak kayuh di tengah gempuran mobil listrik masih menemukan secercah harapan di sektor pariwisata. Di sejumlah kota yang memiliki kawasan bersejarah dan budaya kuat, becak kayuh justru dipandang bukan sekadar alat transportasi, melainkan bagian dari identitas kota. Keberadaannya menjadi simbol kehidupan urban masa lalu yang masih bertahan di tengah arus modernisasi. Bagi sebagian daerah, becak kayuh kini difungsikan sebagai sarana wisata yang menawarkan pengalaman berbeda. Wisatawan dapat menikmati suasana kota dengan tempo lambat, memungkinkan mereka mengamati detail lingkungan sekitar yang sering terlewatkan jika menggunakan kendaraan bermotor.
Nilai Estetika Bagi Wisatawan
Wisatawan sering kali memilih becak kayuh bukan karena kecepatan atau efisiensi waktu, melainkan karena nilai pengalaman yang ditawarkan. Menyusuri kawasan kota tua, pasar tradisional, atau jalan sempit bersejarah dengan becak kayuh menghadirkan sensasi nostalgia yang kuat, seolah membawa penumpang kembali ke masa lalu. Kecepatan yang rendah juga memberikan keuntungan dari sisi visual dan fotografi. Wisatawan memiliki kesempatan lebih leluasa untuk mengambil gambar bangunan kolonial, aktivitas masyarakat lokal, hingga suasana jalanan yang khas. Interaksi langsung dengan pengayuh becak pun menjadi nilai tambah, karena wisatawan dapat mendengar cerita, sejarah lokal, atau sekadar berbincang santai selama perjalanan.
Upaya Pelestarian Kawasan Khusus
Untuk menjaga keberlangsungan becak kayuh, beberapa pemerintah daerah mulai mempertimbangkan pembentukan kawasan atau zona khusus. Di wilayah ini, hanya transportasi non-emisi dan ramah lingkungan seperti becak kayuh yang diizinkan beroperasi. Kebijakan tersebut tidak hanya bertujuan melestarikan alat transportasi tradisional, tetapi juga menjaga kualitas udara, ketenangan lingkungan, serta nilai historis kawasan. Langkah ini menjadi benteng pertahanan bagi para pengayuh becak agar tetap memiliki ruang hidup dan pasar yang jelas di tengah dominasi kendaraan listrik pribadi. Dengan dukungan kebijakan, promosi wisata, dan penataan kawasan yang tepat, becak kayuh berpotensi terus bertahan sebagai warisan budaya sekaligus sumber penghidupan yang layak bagi para pengemudinya.
Tantangan Adaptasi Di Usia Senja
Mayoritas pengayuh becak kayuh saat ini adalah kelompok lansia. Bagi mereka, beralih profesi atau mempelajari teknologi digital adalah tantangan yang sangat berat.
- Keterbatasan Fisik: Mengayuh beban berat di usia tua menjadi beban kesehatan yang signifikan bagi para pengemudi becak.
- Gap Teknologi: Kesulitan dalam menggunakan ponsel pintar menjadi penghalang utama bagi mereka untuk bergabung dalam ekosistem transportasi berbasis aplikasi.
- Modal Usaha: Rendahnya pendapatan membuat mereka sulit mengakses modal untuk sekadar mempercantik armada agar lebih menarik minat penumpang.
Kesimpulan Perlu Regulasi Yang Inklusif
Modernisasi melalui kendaraan listrik memang solusi masa depan, namun kemanusiaan tidak boleh ditinggalkan. Perlu ada regulasi yang menempatkan becak kayuh sebagai bagian dari warisan budaya agar mereka tidak benar-benar punah ditelan zaman.
Memahami nasib tukang becak kayuh di tengah gempuran mobil listrik mengingatkan kita bahwa di balik kemilau teknologi, ada sisi kemanusiaan yang membutuhkan kebijakan afirmatif dari pembuat kebijakan.
Penulis : keyla noviani
Gambar ilustrasi : Tanha Tamanna Syed , Thiago Oliveira , Djaja Suara dari Pexels
Referensi :
- Kebijakan Transportasi Tradisional dan Penataan Kawasan Kota – Dinas Perhubungan
- Kondisi Sosial Ekonomi Pekerja Sektor Informal Lansia – Kementerian Sosial RI
- Perkembangan Kendaraan Listrik dan Dampaknya terhadap Transportasi Perkotaan
- Pariwisata Berbasis Budaya dan Transportasi Tradisional
Komentar