Kisah inspiratif warga Kaligawe Semarang bertahan dari banjir rob. Intip strategi peninggian rumah hingga sistem pompa peninggalan warga di sini!
Bagi warga Kaligawe, Semarang, genangan air laut yang masuk ke daratan atau banjir rob bukanlah tamu asing. Selama puluhan tahun, kawasan ini menjadi salah satu titik terdalam yang terdampak penurunan muka tanah (land subsidence). Namun, di balik genangan air yang tak kunjung surut, terdapat kisah ketangguhan luar biasa tentang bagaimana cara warga Kaligawe bertahan di tengah kepungan rob demi menjaga keberlangsungan hidup dan tempat tinggal mereka.
Artikel ini akan mengupas berbagai strategi adaptasi mandiri, teknik renovasi bangunan yang unik, hingga upaya kolektif masyarakat dalam meminimalisir kerugian ekonomi akibat bencana lingkungan ini.
Strategi Peninggian Bangunan Secara Berkala
Metode utama yang dilakukan warga untuk menyelamatkan tempat tinggal adalah dengan meninggikan lantai rumah secara bertahap. Fenomena ini menciptakan pemandangan unik di mana tinggi pintu rumah sering kali menjadi jauh lebih pendek dari standar aslinya.
- Peninggian Lantai Mandiri: Warga biasanya menguruk lantai rumah setinggi 50 cm hingga 1 meter setiap 3-5 tahun sekali, tergantung pada laju kenaikan air.
- Sistem Panggung: Beberapa rumah baru mulai mengadopsi struktur rumah panggung minimalis atau lantai dasar yang dibiarkan kosong sebagai area parkir air agar struktur utama bangunan tetap kering.
- Peninggian Atap: Seiring bertambah tingginya lantai, atap rumah pun harus dibongkar dan dinaikkan agar ruangan di dalam tetap memiliki sirkulasi udara yang baik dan tidak terasa sesak.
- Komunikasi Antarwarga: Melalui grup WhatsApp atau pengumuman dari masjid, warga saling menginformasikan jadwal pasang surut air laut agar mereka bisa mengamankan kendaraan atau perabotan elektronik tepat waktu.
- Modifikasi Kendaraan: Para pekerja dan pedagang di Kaligawe sering kali memodifikasi kendaraan mereka, seperti meninggikan posisi mesin motor atau menggunakan pelumas anti karat khusus agar kendaraan tidak cepat rusak akibat air garam.
Penggunaan Tanggul Dan Pompa Mandiri
Selain modifikasi bangunan, warga Kaligawe juga menerapkan sistem pertahanan air di depan pintu masuk. Hal ini dilakukan untuk mencegah air masuk saat pasang tinggi melanda secara tiba-tiba.
Tanggul Permanen Di Depan Pintu
Hampir setiap rumah di kawasan Kaligawe memiliki tanggul permanen setinggi 30-60 cm tepat di ambang pintu masuk. Warga juga sering menyediakan papan penahan atau kantong pasir tambahan saat cuaca ekstrem tiba. Tanggul ini memaksa penghuni rumah untuk melangkah lebih tinggi setiap kali keluar-masuk, sebuah adaptasi fisik yang telah menjadi kebiasaan sehari-hari.
Inovasi Pompa Air Skala Rumah Tangga
Bagi warga yang memiliki dana lebih, penggunaan pompa air otomatis menjadi solusi praktis. Pompa ini ditempatkan di dalam bak kontrol kecil (sumur pengumpul) di depan rumah. Saat air rob merembes masuk ke halaman, pompa akan menyala dan membuang air kembali ke saluran drainase utama yang biasanya sudah ditinggikan oleh pemerintah.
Adaptasi Sosial Dan Ekonomi Masyarakat
Bertahan di tengah rob tidak hanya soal fisik bangunan, tapi juga soal ketahanan mental dan sosial. Warga Kaligawe telah mengembangkan sistem peringatan dini berbasis komunitas.
Tantangan Kesehatan Dan Dampak Jangka Panjang
Meski warga menunjukkan ketangguhan yang luar biasa, hidup di tengah kepungan rob membawa risiko kesehatan yang nyata. Air rob yang bercampur dengan limbah domestik meningkatkan risiko penyakit kulit, diare, dan menjadi tempat berkembang biak nyamuk. Akses terhadap air bersih juga seringkali terganggu.
Upaya warga ini merupakan langkah jangka pendek yang sangat menguras biaya. Pembangunan tanggul laut raksasa (Giant Sea Wall) dan optimalisasi kolam retensi oleh pemerintah tetap menjadi harapan utama masyarakat agar Kaligawe bisa kembali kering secara permanen dan warga dapat hidup lebih layak.
Penulis : keyla noviani
Referensi :
Komentar